Showing posts with label Materi. Show all posts
Showing posts with label Materi. Show all posts

Materi #7: REJEKI ITU PASTI, KEMULIAAN HARUS DICARI


Alhamdulillah setelah  melewati dua tahapan “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan”  dalam proses pemantasan diri seorang ibu dalam memegang amanah-Nya, kini sampailah kita pada tahapan “Bunda Produktif”.

Bunda Produktif adalah bunda yang senantiasa menjalani proses untuk menemukan dirinya, menemukan “MISI PENCIPTAAN” dirinya di muka bumi ini, dengan cara menjalankan aktivitas yang membuat matanya “BERBINAR-BINAR "

Sehingga muncul semangat yang luar biasa dalam menjalani  hidup ini bersama keluarga dan sang buah hati. 

Para Ibu di kelas Bunda Produktif  memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rejeki.

Mungkin kita tidak tahu dimana rejeki kita, tapi rejeki akan tahu dimana kita berada.

Sang Maha Memberi  Rejeki sedang memerintahkannya untuk menuju diri kita”

Allah berjanji menjamin rejeki kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan amanah-Nya,  demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar

Untuk itu Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah  

Semua pengalaman para Ibu Profesional di  Bunda Produktif ini, adalah bagian aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah *KEMULIAAN* hidup.

“ Karena REJEKI itu PASTI, KEMULIAAN lah yang harus DICARI "

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya” iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya” tidak” kita perlu menguatkan pilar “bunda sayang” dan “bunda cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “bunda produktif”.

Tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “Dari Mana” dan “Untuk Apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.

Maka 

Bunda produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam angka dan rupiah, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebagai sebuah kepuasan hidup, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang bermanfaat bagi banyak orang

Menjadi Bunda Produktif, tidak bisa dimaknai sebagai mentawakkalkan rejeki pada pekerjaan kita.

Sangat keliru kalau kita sebagai Ibu sampai berpikiran bahwa rejeki yang hadir di rumah ini karena pekerjaan kita.

Menjadi produktif itu adalah bagian dari ibadah, sedangkan rejeki itu urusan-Nya

Seorang ibu yang produktif itu agar bisa,

1. Menambah syukur, 
2. Menegakkan taat 
3. Berbagi manfaat.


Rejeki tidak selalu terletak dalam pekerjaan kita, Allah berkuasa meletakkan sekendak-Nya

Maka segala yang bunda kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (Profesional).

Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan Rejeki adalah urusanNya.

Rejeki itu datangnya dari arah tak terduga,  untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.

Rejeki hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya,

Ketika sudah mendapatkannya ,jawab pertanyaan berikutnya “ Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/


Sumber bacaan:

• Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014
• Ahmad Ghozali, Cashflow Muslim, Jakarta, 2010
• Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015

Materi #5 BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR




Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, 

Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.


Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang  yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar. 


Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran  yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.


Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa. 

*_Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan_*


Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.


Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.

Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.


Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?


Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal : 

1⃣Belajar hal berbeda        
2⃣ Cara belajar yang berbeda

3⃣Semangat Belajar yang berbeda


🍀 *Belajar Hal Berbeda*

Apa saja yang perlu di pelajari ?

yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:

🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya

🍎Menumbuhkan karakter yang baik.

🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)


*Cara Belajar Berbeda*

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.


Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.

Misalnya :

👍Ibu jari : How

👆Jari telunjuk : Where

✋Jari tengah : What

✋Jari manis : When

✋Jari kelingking : Who

👐Kedua telapak tangan di buka : Why

👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.


Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya


Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.


Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik

_Apa itu berpikir skeptik ?_

Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.


*Semangat Belajar Yang berbeda*

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :


🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.

🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.


Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).


Yang harus dipahami,

*_Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita_*


Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?


• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan 

*_Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah_*


Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.


Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.



🚫 *_Sebaliknya jangan meratakan lembah_*

yaitu dengan menutupi kekurangannya,

Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).


Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.


Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.


Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.



Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?


Caranya adalah :

1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati

2⃣Mengetahui tujuannya, cita-citanya

3⃣Mengetahui passionnya


Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.


  *_Good is not enough anymore we have to be different_*


Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).


Peran kita sebagai orang tua :

👨‍👩‍👧‍👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.

👨‍👩‍👧‍👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.

kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya

👨‍👩‍👧‍👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.



Cara mengetahui passion anak adalah :

1⃣ _Observation_ ( pengamatan)

2⃣ _engage_(terlibat)

3⃣ _watch and listen_ ( lihat dan dengarkan suara anak)


Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.

Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.


Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.



Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :


1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya,

Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya

3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari

4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan :

_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_

_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_

Materi #4: MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #4

Hari, tanggal : Selasa, 14 Februari 2017
Waktu : 08.00-17.00

PROGRAM MATRIKULASI IBU PROFESIONAL SESI #4  

👦👧MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH👦👧

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan *_DIRI ANDA SENDIRI_*

Apakah mudah? TIDAK.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.




Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3. Bagi yg sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak. 

“ *Just DO It*”, 
_lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita_.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada _Apa yang harus dipelajari anak-anak kita_,  bukan pada _Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut_ Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya. 

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:

a.Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll. 

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. 



Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition” 

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.

Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya. 




Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/



Sumber bacaan :

_Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013_

_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_

_Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014_

_Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2017_

DISKUSI :

1⃣
#tanya-fajrin
1. Maaf, mungkin bisa dicontohkan program yang khas bersama anak seperti apa?
2. Apakah mengajak anak semisal berkebun atau bermain di kandang kambing (rutinitas kami dengan Nadia di pagi hari) serta menyodorkan beberapa buku (biasanya Nadia yang menentukan sendiri buku yang ingin dibacakan) termasuk kegiatan yang bisa membangkitkan, menyadarkan dan menguatkab fitrah anak? Terima kasih
➡Mbak Fajrin yang baik, program khas bersama anak  bisa disesuaikan dengan kondisi di rumah dan minat serta ketertarikan anak. Kalo saya di rumah, saya libatkan anak dalam setiap aktifitas. Saya nyuci baju, anak main air. Saya masak, anak ikut metik - metik. Di kantor, anak juga dilibatkan untuk jadi asisten bunda mulai mengambilkan kertas, beres-beres rak dll. Apa saja yang bisa dilakukan anak, dan mereka senang serta belajar, Saya libatkan. Jadi tidak ada aktifitas khusus.

Kegiatan yang sudah mbak lakukan juga sudah merupakan kegiatan khusus bersama anak. Dan menguatkan fitrah belajar anak selama tidak ada unsur menjejali. Karena dalam proses membangkitkan, menyadarkan dan menguatkan fitrah anak, pada dasarnya kita sebagai orang tua hanya sebatas menjadi fasilitator yang membersamai anak. Yang bisa kita berikan hanyalah stimulus, kawal terus fitrah anak supaya tetap pada jalurnya. Stimulus, fasilitasi dan bersamai, teman.✅

Benar sekali mbak Rizki... selain itu sekarang sudah banyak metode-metode yang "kekinian" dalam membersamai sikecil😊.
Sebagai fasilitator anak-anak kita bebas memilih dan memakai yang sesuai dengan kondisi kita serta minat dan ketertarikan anak. Carilah aktifitas yang membuat mata anak berbinar😊

Mendidik anak secara alami dan sunatullah adalah mendidik sesuai perkembangan fitrah anak. kita menemani dan berinteraksi secara fisik dan psikoligis dalam setiap perkembangannya bukan menjejali, mengajari apalagi mengintervensi dan mendominasi. Mendidik adalah proses membangkitkan, menyadarkan dan menguatkan fitrah anak yang sudah Allah berikan .✅

2⃣
#tanya-intan, bagaimana cara untuk menemukan misi hidup, misi keluarga dan misi spesifik anak?
Bagaimana cara untuk mendidik anak agar didikannya bisa secara alami sesuai sunnatullah?
➡Mbak Intan yang baik, langkah pertama dulu saya Gunakan 5W1H. Coba tanyakan pada diri sendiri dengan menggunakan rumus tersebut, lalu diskusi dengan suami terkait keluarga, lalu perhatikan anak-anak kenapa mereka di amanahkan dalam rahim saya dan berada di tengah-tengah keluarga saya?bukan orang lain?
kalo kata Pak Dodik pake ilmu titen. Allah memberi tugas, pasti sudah melengkapi kita juga dengan semua yang diperlukan untuk menyelesaikan misi itu. Jadi lihat saja, perhatikan saja, bahasa jawanya titeni apa-apa yang terasa mudah, seperti Allah yang membantu kita melaksanakannya...mungkin disitulah peran dan misi kita😊

3⃣
# tanya ( ima)
Terimakasih materinya mba..sepertinya saya memang menunggu materi ini. Saya memiliki anak sulung 8 tahun. Dulu saya memang bekerja dan bsru berhenti kerja satu tahun ini. Belakangan ini saya merasa kesulitan menghadapinya.. karena anak saya lebig suka dan lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah dengan teman temannya. Juga sepertinya mulai kecanduan game online...masya allah materinya sangat menyentuh sekali mba. mungkin awalnya memang karena kesalahan saya yang sibuk bekerja. Apa yang harus saya benahi dan lakukan terkait anak saya tersebut. Karena semakin dilarang dia semakin memberontak. Dan temperamen..semoga allah jadikan anak yg solih dan allah kuatkan saya mendidiknya.mohon doa dan sarannya mba..terimakasih..
➡Mbak Irma yang baik. Peluuk mbak😘.
Alhamdulillah tidak ada kata terlambat untuk berubah. Langkah awal, mohon maaf kepada si sulung kemudian mohon ampun kepada Allah ya mbak karena kita sudah menyia-nyiakan amanah-Nya selama ini dengan ilmu sekedarnya, minta petunjuknya apa yang harus kita lakukan dan lihat serta rasakan tanda-tandanya pasti akan terlihat jelas lalu ikuti kata hati.
Untuk pendekatan ke ananda, coba mbak berikan ruang di rumah (fasilitasi) dan buat kesepakatan. Usahakan setiap aktifitasnya terpantau oleh kita tanpa beliau merasa dipantau. Lalu amati apakah kegiatannya positif atau negatif? Setelah ada hasil baru lakukan tindakan yang perlu dilakukan.
Statement mbak "sepertinya dia mulai kecanduan game online", itu masih asumsi. Sebaiknya dipastikan dulu, jalin komunikasi tidak dengan melarang tapi coba ikut terlibat dan tunjukan perhatian. usahakan ananda percaya dan mau dekat dengan mbak😊✅

Makasih banyak jawabannya mba..😭😭..insya allah akan saya praktekan.maksudnya tidak melarang dan ikut terlibat bagaimana ya mba? Maaf nanya lagi...

Mbak Sapta salah seorang Fasil matrikulasi berbagi pengalaman semoga menginspirasi ya mbak 😊 : Ini sedikit pengalaman saya pada waktu anak saya mulai sekolah di bangku sekolah dasar senengnya maen diluar dan saya perbolehkan...pernah saya kecolongan anak saya maen game di rumah tetangga..maka untuk mengantisipasi hal tersebut saya minta ke anak saya ajak teman2 mu kerumah Kita ajak makan di rumah yaa...akhir nya saya tahu sifat dan sikap dari teman-teman anak saya...setelah teman-teman nya pulang dan anak saya mau tidur saya mulai memasukkan pesan ke anak saya mana yang mamah suka dan mana yang mamah tidak suka...
Alhamdulillah berubah sedikit demi sedikit menuju ke yang lebih baik..

👆Jadilah teman bermain mereka. Di saat bersama mereka, jadilah bagian dari mereka (tumbuhkan jiwa anak-anak yang ada dalam diri kita). Di saat yang tepat ketika ananda siap menerima kita, masuklah dan ajaklah ananda berdialog dalam posisi mbak sebagai orang dewasa.😊

4⃣
 #tanya nina
 literatur apakah yg bs kita gunakan utk kemudian kita jadikan acuan dlm merancang kurikulum/bahan pembelajaran yg berbasis fitrah utk anak2 ?
➡Mbak Nina sayang... Saat ini sudah banyak literatur-literatur yang berbasis fitrah. Salah satunya FBE (Fitrah Based Education) Ustd.Harry Santosa, dan yang sesuai kurikulum dan sudah banyak dipraktekkan ibu-ibu IIP adalah Buku Bunda Sayang . (Saya menggunakan itu 😊)✅

5⃣a
#tanya-tia
"Bukan pada apa yang harus dipelajari anak kita, tapi untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut". Apakah kita harus menjelaskan pada anak secara lisan misalnya mengapa dia mempelajari hal tsb. Atau maksudnya bagaimana mbak? ➡Tidak harus dijelaskan, tapi kita sebagai fasilitator memiliki tujuan ketika mengenalkan anak pada sesuatu. Misal melatih motorik halus/ kasar, melatih bicara, melatih menjadi tuan rumah/tamu yang baik. Siap-siaplah dengan jawaban ketika anak bertanya. Ini salah satu cara juga dalam mengasah rasa ingin tahu anak.😊✅

Di sekolah tempat Saya mengajar dulu. Mereka membuat kegiatan sesuai tahap perkembangan anak. Apakah bisa diterapkan pada anak kita di rumah. Sesuai fitrahkah? Misalnya anak usia 7tahun senang meronce, maka kita membuat kegiatan meronce bersama anak..➡selama tidak ada unsur penjejalan kegiatan apapun itu yang sesuai dengan tahanannya itu sesuai fitrah. Cukup perhatikan dan amati reaksi anak ketika kita mengenalkan sesuatu. Dari situ akan ditemukan jawaban 😊✅

5⃣b
#tanya nazroh
1. Gmn ya trik nya spy anak senang belajar pelajaran skolah dan mengerjakan PR? Hrsnya rasa snang bljr itu terus dipupuk..dulu anaknya senang skali  blajar dalam kondisi sakitpun...skrg agak susah kl disuruh bljr.

Oiya..sy py 3 putri
➡Mbak Nazroh yang baik, poinnya ada di PR atau di belajar?
Jika di belajar, biarkan anak mempelajari yang disukainya selama itu tidak bertentangan dengan fitrah Nya. Tapi jika di PR, maka sejauh mana PR tersebut bisa memotivasi belajarnya? Sebelumnya mohon maaf usia ananda berapa tahun? Khawatirnya ada fase proses belajar "yang dulu" ternyata telah menyalahi fitrah belajar ananda.
2. Sy kebanyakan mnghabiskan waktu brsama anak terkecil...jd lbh jarang membersamai kaka nya...gmn membagi kebersamaan itu ya bun?➡Saya berbagi pengalaman, Anak saya yang paling besar 5th, yang kedua 3 tahun dan dalam kandungan 7 bulan. Dalam keseharian, saya mencoba melibatkan setiap anak ketika berinteraksi dengan anak yang lain bahkan dalam aktifitasnya biarkan mereka yang berinteraksi secara aktif saya hanya mengawasi. 
Misal, si Ade mau minum susu maka saya akan minta tolong si Aa untuk mengambilkan botol susu si Ade. Atau ketika si Ade mau ke kamar mandi, maka si Aa yang mengantar. Membuat roti untuk sarapan  bersama, pernah saya libatkan si Ade dan si Aa, saya mengoles mentega, Aa dan Ade tabur coklat, Aa ambil piring Ade ambil gelas.
Begitupun terhadap calon adiknya yang masih dalam kandungan, saya selalu minta Aa dan Ade untuk menyapa dan mengajak bermain adiknya di waktu tertentu seperti mengelus perut, ngajak ngobrol , bercerita sampai ada respon dari sang bayi dalam perut itu reaksi anak-anak luar biasa senangnya. Memang tidak selalu mulus, adakalanya diakhiri dengan drama dan kericuhan. Di saat seperti itu baru saya dan suami turun masing -masing menghandle 1 orang😉.
Poin pokoknya, libatkan setiap anak ketika kita berinteraksi dengan anak yang lain. Sehingga statement "Bunda lebih sayang Aa daripada Ade" itu bisa dihindari😄.✅

6⃣
#tanya_dewi
Bagaimana menguatkan anak-anak dari lingkungan yg tidak kita inginkan 
Misalnya kita sudah buat strategi2 dan kesepakatan keluarga, namun kita tidak dapat menutupi kemungkinan untuk anak-anak bergaul dengan lingkungan nya, ataupun dengan sepupunya namun beda pemahaman (pola asuha)nahh bagaimana anak-anak kita agar tidak terkontaminasi namun tetep bergaul dengan mereka, mewarnai mereka
➡Mba dewi sayang,betul sekali kita tidak bisa membatasi pergaulan anak dengan keluarga dekat,alangkah baiknya kita kuatkan dari dalam hitam katakan hitam,putih katakan putih tidak ada abu2,jadi saatnya ada pengaruh buruk otak anak langsung menolak "ada yang salah nih". Dan jadikan kita teman yang baik dan nyaman untuk anak2,saat anak mendapat input yg diluar ajaran kita,anak akan lari ke kita mencari penjabaran itu baik/buruk. 
Konsisten dengan sikap dan kesepakatan yang sudah di ambil. Anak cenderung menguji konsistensi orang tuanya.😉
So keep konsisten dalam bersikap. Menghadapi lingkungan, yang harus disiapkan adalah imunitas. Semakin ganas virus ideologi dari luar, maka harus semakin kuat juga imunitas yang ditanamkan di dalam rumah.
Steril➡terkontaminasi➡bersihkan➡terkontaminasi lagi➡bersihkan lagi➡tambah imunitas 
Terus dan terus... lakukan sampai anak benar-benar kebal dan mampu membuat perlawanannya sendiri😊✅

7⃣
Assalamu'alaykum
#tanya - elli
Bagaimana caranya agar2 anak2 belajar sesuai dengan fitrahnya, kalau anak2 yang bersekolah formal, disana jarang sekali belajar sesuai dengan fitrah anak2, ditambah ada PR ?? Terimakasih
➡Wa'alaikumsalam warohmatulloh.
Belajar sesuai fitrah bisa bermacam-macam bentuk dan caranya. Semua boleh kecuali yang tidak boleh (lihat kembali materi 4).
Salah satu yang sudah dipraktekan mbak Nesri koordinator IIP Bogor.  
Anak dalam rentang usia 0-7th masih dalam masa eksplorasi...let it be. niatkan buat investasi ya, Bunda...lebih baik dia pindah-pindah kegemaran sekarang daripada ketika sudah besar pindah-pindah kerjaan tiap 3 bulan.
Saya share pengalaman aja, ya Bunda. Anak saya yang pertama pengen les renang. Oke, diberi dan difasilitasi. Dibelikan fin, goggle, baju renang, dan papan latihan, karena syarat dari gurunya semua harus ada. Dia berenang hanya sampai bisa ngambang lalu gantung fin. Lalu minta sekolah bola, beli juga sepatu bolanya yang berlaku di tapak.
tahan 3 bulan juga, lalu berhenti. Pernah tertarik dengan astronomi sampai dibelikan teropong oleh kakeknya untuk melihat bulan. Hanya dipakai 5 kali teropongnya, lalu disimpan. Sekarang, setelah berkali-kali ganti bidang minat, dia memutuskan untuk fokus belajar tentang ikan. Alhamdulillah...perjalanan panjang. Dan saya yakin dia bisa memastikan diri untuk fokus di satu bidang karena dia sudah pernah coba banyak bidang yg lain. Jadi, saya tak menyesal dengan semua investasi materi dan nonmateri yg dikeluarkan. Semua memfasilitasi dirinya untuk menemukan jati diri...😉
 👆Langsung contoh kongkret pada praktek.

Aiko 7 tahun kelas 2 SD senang sekali menggambar. Di sekolahnya seringkali  banyak PR. Ketika beliau mengeluh, saya coba tanamkan Aiko boleh kerjakan itu kalo Aiko suka. Kalo tidak,tidak apa-apa jangan dipaksakan Aiko boleh minta bantuan. (Peranan seluruh orang rumah dalam menyikapi hal ini sangat menentukan)Lalu .kami fasilitasi kegemarannya untuk terus di asah dan beliau senang. Lalu bagaiman dengan gurunya? Sejauh ini saya coba mengkomunikasikan hal tersebut dengan gurunya, alhamdulillah saat ini semakin banyak guru yang faham dengan hal ini. 
Semoga bisa membantu...🙏
Lain hal yang saya Coba bantu lakukan terhadap keponakan yang juga bersekolah di sekolah formal dengan "PR"nya

8⃣
Tanya - Nadya Vaizal
Pendidikan anak sesuai fitrah, apakah artinya, kita harus menanamkan kesukaan belajar, dibandingkan dengan mengenalkan banyak bidang ilmu?➡
Mbak Nadya yang baik, pertanyaannya mirip denga. Yang atas ya... 😊
Sebenarnya hal itu hanya salah satu contoh saja. Namun yang dimaksud dalam contoh tersebut adalah menekankan pada kualitas bukan hanya kuantitas belajar. Praktek pendidikan sesuai fitrah bisa bermacam sesuai kondisi anak dan keluarga karena setiap keluarga unik. Semua boleh kecuali yang tidak boleh. Yang tidak boleh adalah menjejalkan, mengendalikan, mengintervensi dan mendominasi sehingga fitrah anak rusak. Jadi sebenarnya sah-sah saja jika kita mengajarkan banyak bidang ilmu jika fitrah anak tetap terjaga.  ✅
Bolehkan saya diberikan contoh konkret aktivitas yg menanamkan kesukaan belajar, dibandingkan dengan mengenalkan banyak bidang ilmu?
➡contoh kongkret sudah saya share 👆🏻
Lakukan tour de tallent😊

 https://youtu.be/dBKUnlG-S0I

Materi 2: MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2



Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP batch #3? Pekan ini kita akan belajar bersama
a. Apa Itu Ibu Profesional?
b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?
c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?
d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?


Kalo penasaran dengan NHW 2 tentang Indikator Perempuan Profesional versi saya, bisa si cek kesini yaa:
http://nadyavaizal.blogspot.co.id/?m=0

🍀APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --;
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

🍀APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

🍀MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi
guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya
sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. .Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.


🍀VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.


🍀BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :
a. Bunda Sayang
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha
Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

🍀APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena  anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

BUNDA SAYANG
a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

BUNDA CEKATAN
a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

BUNDA PRODUKTIF
a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

BUNDA SHALEHA
a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:
“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto

Salam Ibu Profesional


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

📚SUMBER BACAAN:
Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008
Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012
Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013
Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014
Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

Materi 1; Adab Menuntut Ilmu Kelas Matrikulasi Batch 3 Bogor (IIP)


RESUME DISKUSI MATERI PROLOG KELAS MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BOGOR 2.

Tanggal: Senin, 23 Januari 2017
Waktu: 20.00-21.00 WIB
Nama fasilitator : Wahyulissetiarani dan Melyantina
Koordinator mingguan : Aulia Fauziah

PROLOG 1
KELAS MATRIKULASI BATCH 3 
INSTITUT IBU PROFESIONAL 
☘☘☘☘

ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 23 Januari 2016
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU 
ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?
Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik darii Ibunya

☘ ADAB PADA DIRI SENDIRI
a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c. Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
d. Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

☘ ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)
a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ ADAB TERHADAP SUMBER ILMU
a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5
Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

(Untuk diskusinya nanti akan diupdate yhaa, maklum mamah rumah tangga 😁)
 
Nadyavaizal's Blog Design by Ipietoon