Showing posts with label Saya dan Suami. Show all posts
Showing posts with label Saya dan Suami. Show all posts

Surat Cinta Sehidup Sesurga



Aku tidak mengingat kapan tepatnya kita saling kenal, namun aku mengingat hari pertama kau sentuh ubun-ubunku lalu berdoa. Rasanya campur aduk. Lega, bahagia, takut, berdebar-debar menjadi satu. Tapi satu hal yang aku sadari, aku tidak ragu untuk melangkah ke jenjang itu.

Sebelumnya, aku berdoa disetiap malamku, sesenggukan. Aku memanjangkan sujudku, agar Allah membersamai langkah dan keputusanku. Tidak pernah aku merasa sangat yakin namun dibarengi ketakutan yang besar, bahwa inilah laki-laki yang aku tunggu. Ketika aku sudah memilih, maka aku memilih untuk selamanya sebagai konsekuensinya.

Perjalanan menuju pernikahan pun terbilang mudah, jika ada cobaan-cobaan, maka mereka berasal dari luar. Bukan kita dan para orang tua. Aku ingat, bukan kita yang ragu. Tapi mereka.

Kemudian kau sudah terlelap disampingku, aku memandangi seseorang yang telah menjadi imamku. Yang akan bertanggung jawab atas diri dan anak-anakku, kelak. Bebanmu tak mudah. Aku tau, aku wanita yang sulit dan kompleks. Tanpa sadar aku menangis. Haru dan bahagia. Inikah jawaban dari doa dan sujud panjangku? Aku bersyukur, sangat bersyukur.

Kemudian aku mengandung benih cinta kita, ia tumbuh dengan kuat dirahimku. Berbagai kesibukkan dan cobaan kami berdua lalui, ia tetap bertahan dirahimku. Ia tidak menyerah, begitupun aku. Dalam diammu, aku tau kau berdoa. Aku tau kau mengkhawatirkanku.

Tahukah kau, mungkin kau laki-laki yang paling sabar yang kukenal. Jika ada yang lebih sabar darimu, beruntung aku tak mengenalnya lebih dekat. 

Kau menungguku di stasiun sejak setengah enam sore, aku tak bisa menghubungimu karena telepon selulermu mati. Aku telat. Commuter yang biasa kutumpangi tak bisa kunaiki sama sekali. Akhirnya aku berhasil menaiki Commuter yang entah ke berapa lewat didepan mataku. Aku tak takut kau meninggalkanku pulang, aku takut kau marah karena terlalu lama menunggu istrimu yang tak kunjung datang. Setengah delapan aku sampai di stasiun tujuanku, aku mencarimu. Berharap kau masih menunggu walau tanpa kabar, tapi juga berharap kau pulang lebih dulu karena lelah menunggu. Lalu aku menemukan wajahmu diantara deretan motor-motor itu. Aku terharu. Bagaimana bisa kau punya kesabaran sebanyak itu, yang bahkan aku pun ragu ia ada didiriku. 

Kau mencintaiku, pikirku. Sangat mencintaiku.

Kau orang yang paling cemburu. Kau cemburu jika aku tidak berpakaian sesuai syariat dan kau juga cemburu tentang yang lainnya. Kau memang tak pernah mengakui kecemburuanmu tentang yang lainnya tapi aku tau. Anggap saja aku besar kepala, namun aku benar, kan?

Karenanya aku mencintaimu.

Cinta kita tumbuh, menguat, mengisi kekosongan masing-masing. Hingga suatu ketika kita berbeda pendapat, aku tak bisa mengutarakannya secara gamblang, kau pun hanya diam. Aku tak tau apakah kau menyimpan kegelisahan dan keraguan disaat itu atau tidak. Kita diam, bersedih didalam hati sendiri. Menjaga perasaan masing-masing. Aku terlalu takut menjadi wanita yang tak taat. Aku juga terlalu takut menjadi perempuan yang menyebalkan untukmu. Lalu kesabaran dan doa kita membuahkan hasil, kau memelukku meminta maaf, aku pun meminta maaf. Kau menangis, aku tak tega. Hatiku begitu sakit ketika kau ikut menangis juga. 

Dan itu pertama kali aku melihatmu menangis.

Aku tak ingat kita berbeda pendapat tentang apa. Aku selalu bersyukur diberi kemudahan melupakan bagian-bagian tak indah dalam hidupku. Alhamdulillah.

Kemudian kita menertawakan hal yang sama. Berbahagia kembali.

Namun, perjalanan hidup kita, tak selalu berjalan mulus. Kemudian, kau terlihat tak sesabar yang kukira. Kau terlihat tak sehebat yang kubayangkan. 

Setiap kali kita berbeda, aku merasakan mereka muncul dan tak terasa semakin banyak. Semakin jauh. Mengapa begini, mengapa begitu? Tanyaku. Dalam hati. Overthinking. Ya, kau tau itu aku.

Cintaku tak lagi membara, ia tak lagi menggebu-gebu seperti saat pertama. Bagaimana denganmu?

Namun, kemudian kita menemukan diri kita didalam tenangnya solat. Memaknai kehidupan ini dalam doa-doa yang kita pinta. Menemukan perlengkapan rumah yang sama-sama kita inginkan. Menemukan sebuah rumah mungil yang kita idam-idamkan. Menemukan humor-humor berselera rendah yang kita tertawakan. Menemukan film-film untuk menghabiskan malam bersama. Terlelap. Dan aku terbangun dari tidurku serta tetap bersyukur, aku memilikimu. Allah pasti punya alasan yang kuat mengapa kita bersama.

Aku bersyukur, karena aku mengira tantangan rumah tangga yang kita jalani tak serumit tantangan teman-temanku. Aku bersyukur kau tidak repot mengomentari rumah yang berantakan. Aku bersyukur aku memiliki suami yang ringan membantu pekerjaan domestik. Aku bersyukur kau sabar dan tenang menghadapiku. Aku bersyukur kau mendukung niat-niat baikku. Aku bersyukur kau ikut serta membantu merawat buah hati kita. Aku bersyukur kau jarang sekali mengeluh tentang pekerjaanmu atau kelelahanmu. Bahkan aku lupa kapan terakhir kau mengeluh. 

Aku bersyukur kau seorang laki-laki bertanggung jawab yang cerdas dan menyenangkan.

Tapi percayalah, aku tidak akan mencintaimu apa adanya. Kau tetap harus membimbingku menjadi lebih baik dan aku akan tetap mendukungmu menjadi lebih baik. Hidup ini bukan untuk menjadi biasa-biasa saja. Allah telah menetapkan kita untuk menjalani sebuah misi yang tidak dimiliki pasangan lain, karena tiap pasangan itu unik. Dan Allah berikan mereka misi yang spesifik. 

Kemudian kita mulai menikmati alurnya dan memaafkan semua perintilan kekurangan dalam diri masing-masing. Memulai hari baru dengan lebih dewasa. Setiap tantangan, selalu mendewasakan.

Ternyata, cinta kita yang tak menggebu-gebu lagi itu kini meredup. Meredup bukan untuk mati, tapi menjadi tenang dan menghangatkan. Ia tumbuh menjadi dewasa dan kuat.
Kadangkala ia akan membara, namun bukan membara untuk kemudian terbakar. Tapi membara hanya untuk menikmati roller coasternya percintaan.

Lalu kita mengerti bahwa cinta bukanlah tetang baik-baiknya saja. Cinta juga bukanlah sesuatu yang mesti kita terima apa adanya. Cinta adalah mengharap RidhoNya, dekat denganNya. Menjadi lebih baik di setiap harinya, untuk pertanggung jawaban kita, kelak. Cinta adalah mencintaiNya yang menghasilkan cinta diantara kita. Cinta adalah berjuang untuk bersama-sama sehidup-sesurga.

Demikianlah aku mencintaiNya, sehingga mencintaimu, meski kadang aku lupa mengatakannya.

Alhamdulillahi Jazaa Kallohu Khoiroo atas semuanya, hingga hari ini. Teruslah menjadi baik lillahi ta'ala. Teruslah menjadi suami yang aku cintai sepanjang masa.

8 February, 2017
H-13 menuju 1000 hari pernikahan.


Istrimu,
yang banyak salah dan khilaf.


Mimih vs Bibih (2.0) #PenitipanMotor #Spyderman #Jualan

Heyhoo. Assalamualaikuum.

Udah lama pengen posting ini, tapi mager. errrr. Padahal udah cukup banyak melewati kekonyolan hidup bareng suami, tapi berhubung anaknya punya short-time memory, jadi deh ya lupa. Pinternya ga dicatet dulu gitu ya di draft. HOEHOE.

Okelah seingetnya ajyach. ENJOY~  ^^

*Selesai Sholat Subuh* *ceritanya di kantor abih mau ada tempat penitipan anak*
Bibih: Selamat Pagi Sabiiiq. Assalamualaikuum. Sabiq mau ikut abih ke kantor gaa? *sambil gendong*
Bibih (2): Mauu, ikut ya bih, ke kantol.. *nanya sendiri, jawab sendiri*
Bibih: Nanti kalo Sabiq ke kantor abih, Sabiq taro di tempat penitipan yaa. Penitipan motor. HIHIHIHI
*geli sendiri*
Mimih: Dih -____________-'


------------------------------------------------------------------------------------

*Mimih sibuk* *ngurus Bibiq sambil bolakbalik Dapur* *abih nonton tipi*
Mimih: Bibiq, Baaa. Biq, jangan guling-guling. *terus ke dapur*
Mimih: *balik lagi ke Bibiq* *becandaan*
Bibiq: bengong doang. datar. (Bibiq emang cool banget anaknya -_____-)
Mimih: *masi becandain Bibiq dalam keadaan jongkok*
Bibih: *noleh* Mih, kamu kaya Spyderman.... *kemudian nonton tipi lagi*
Mimih: *liat kaki* *baru sadar ngajongkok daritadi* iiiiihhh abiiiihh (sambil ketawa pukul-pukul manja) T_T X'D

--------------------------------------------------------------------------------------

M: Bih pake HP sendiriiiii
B: lagi di charge
M: yang satu lagi mana?
B: ditas
M: -_- ambil iiiih aku mau pakeee
B: buat apa ihh?
(padahal HP siapa yang nyolot sapa)
M: buat gugling-gugling, aku mau jualan kerudung.
B: Hoo bagus! Nih.. *langsung dikasih*
M: (((what the.... suami ekeh....)))
-....-


Okedeh. Segini dulu, semoga berbahagia kita semua. Muach!
Wassalamualaikum ^^


Mimih vs Bibih (1.0) #Opening #Ninja

--OPENING--

Jadiih, terinspirasi dari blognya-istri-temen-gak-terlalu-deket-saya, doi bikin percakapan-percakapan kocak antar suami istri. Karena sepasang pasutri itu terlahir dalam keadaan lucu (terpaksa muji *lol), jadilah kehidupan rumah tangga mereka seru dan penuh celetukkan humor.

Daaaan, berhubung gue (MERASA *anaknyasukabaper lol) memiliki kesamaan dalam kisah rumah tangga, rasanya memang sayang kalo percakapan-percakapan kocak kami hilang begitu saja ditelan bumi.

Disinilah kalian akan menemukan sosok dingin tapi cool (NAON SIH NAD, DINGIN TAPI COOL. wk) suami saya menjadi begitu liar dan menggemaskan. HAHA.

Enjoy!

--NINJA--
Jam 22.00-an
*Kelonan* *becanda becanda gemes dikasur*

M: *ndusel-ndusel bibih*
B: aku mau tidur
M: *cubitcubit pipinya*
B: iiihh..
M: kenapa sih?
B: aku mau tidur..
M: yaudah tidur aja, yee
B: jangan gangguin aku *sambil nunjuk pipi* *kiyut banget *lol :))))))
((tibatiba))
*brbkbrbkrbrkbrk* (orang lari kenceng buanget depan jalan rumah)
B: ADA NINJA!
M: .......


HUAHAHAHAHAHAHA *ngebayangin Ninja beneran*

-End-

Selamat Satu Tahun telah Menjalani Hidup Bersama

Suamiku, 
Aku berharap suatu hari kisah cinta kita tertuang dalam sekumpulan tulisan-tulisan. Di sana, mungkin ada cerita bahagia. Jemari kita begitu lincah mengetik cerita-cerita indah pada keypad masing-masing. Kita menuliskan kata-kata cinta. Menceritakan keajaiban-keajaiban yang Tuhan berikan. Sementara waktu tak terasa melaju semakin larut. 

Tentang tulisan-tulisan itu, aku akan selalu mengingat waktu yang kau sisihkan sekedar untuk menuliskannya. 
Disela kantuk atau sibuk aku memaksamu menuliskan sesuatu, tentang perjalanan cinta. Dan seperti biasa, kau mungkin akan menolak karena bukan begini cara cintamu, namun aku akan tetap memaksa. Ingat itu. 

Siapa yang berinisiatif menuliskan cerita-cerita ini, mungkin suatu saat anak-anak kita akan mempertanyakannya. Mereka membaca paragraf demi paragraf tentang kisah ayah ibunya di sebuah rumah yang kita cicil dengan susah payah. 

Lain waktu, mungkin aku akan menuliskan tentang duka dan beratnya percintaan dan kehidupan. Tentang air mata dan pelukan untuk tetap bertahan dan tenang. Saat mata kita sembab dan berpelukan erat. Saat kita takut dan saling menguatkan. Agar mereka belajar tentang jatuh bangunnya kehidupan dari apa yang telah kita arungi. Bahwa hidup tak selamanya indah, tapi akan cukup indah sekalipun berat, ketika kita percaya bahwa banyak cinta diantara kita dengan kita, diantara kita dengan Tuhan. Ada iman yang menguatkan, ada agama yang memberi acuan. 

Tahukah, matamu menguatkanku? Pelukanmu menenangkanku. Kejujuran dan perilakumu menyatakan kau mencinta tanpa kata. Yang terkadang aku tetap ingin mendengarnya dari bibirmu. Yang terkadang aku masih ingin melihat tulisannya dari jemarimu. Yang terkadang aku ingin diberikan kejutan kecil yang manis. Katakan, tulis dan lakukanlah bila cinta. Membuatku berbahagia tidak salah, bukan? Lagipula, kamu perlu tahu bahwa itu adalah sumber kekuatan untuk menjalani hidupku selanjutnya. 

Suamiku, aku tak pernah berharap salah satu dari kita mendahului yang lain untuk menunggu hari akhir di alam selanjutnya. Kau selalu tau bahwa lebih baik aku yang lebih dulu meninggalkanmu atau kita pergi bersama daripada aku harus ditinggalkan. Aku tidak pernah bisa membayangkan tidur tanpa menciumi baumu, terbangun tanpa melihatmu, bergurau tanpa melihat tawamu, hidup sendiri dalam kenangan-kenangan yang sudah kita tata sedemikian dalam, bersama. 

Kelak, mungkin cucu kita akan bertanya tentang kakek neneknya, sambil menunjuk-nunjuk wajah kita dalam album photo dengan jari-jari mungilnya. Mungkin kita tidak punya cukup waktu untuk menceritakan seluruh lika-liku hidup kita, namun semoga mereka mengerti bahwa kita berdua telah menghabiskan waktu-waktu terbaik untuk mencintai dan mendidik orangtua mereka dengan segala yang kita miliki. 

Suamiku, 
Nanti, kisah kita akan tertulis pada beberapa tempat yang berantakan dan tak utuh untuk bisa menjelaskan detail hidup kita; semua kekhawatiran yang sudah kita lewati, semua doa yang pernah kita panjatkan, semua tangis yang pernah kita curahkan, semua salah yang kita sesali, semua tawa yang membahagiakan, semua yang pernah kita dapat dari pelukan erat atau yang hilang dalam genggaman. 

Tetapi semoga tulisan itu cukup untuk mengabari masa depan bahwa kita pernah melewati masa lalu yang tak dapat tergantikan. 

Tentang waktu, apa yang mesti kita risaukan? Aku sedang mencoba meyakinkan diriku bahwa bukankah hari ini adalah esok yang kemarin pernah 
kita khawatirkan? 

Maka, mungkin sebaiknya aku harus bersikap tenang karena hari ini aku lebih mencintaimu dari kemarin, meski tak sebesar yang akan kuberikan di kemudian hari. Dan aku harap kau pun begitu. 

Selamat satu tahun menjalani kehidupan bersama. Tuhan telah menitipkan satu mahkluk mungil yang kadang tangisannya mengagetkan kita. Selanjutnya, mungkin akan ada dua atau tiga mahkluk lagi. Semoga ke depan, kehidupan dapat memberikan banyak hikmah dan kebahagiaan sehingga kita bisa sukses di hari pembalasan, kelak. 

Selamat berjuang disana, dimanapun. 
Salam rindu yang tak terlukiskan, 
Istrimu.

8 Juni 2015 - C: Facebook's Note

Malam Tiba

Kemudian kota ini memasuki malam
Didalam sendiriku melihat jari-jemari mungil itu
Sambil mengingat-ingat wajahmu
Dekat, hanya berjarak beberapa puluh kilometer saja
Namun malamku tanpa genggaman tanganmu terasa hampa
Sehari tanpamu, ada yang kurang. Ada yang hilang
Lagu-lagu cinta kini begitu mellow ketika terdengar, saat sebelum-sebelumnya ku pikir semua lagu cinta sama, biasa saja

Entah, sampai kapan akan selalu ada drama ketika perlu berjauhan
Maaf, untuk selalu memberikan tangisan ketika harus untuk itu. Maaf, untuk selalu berat melepaskan.
Rapuh...

Malam ini orang-orang masih sibuk berlalu lalang. Sekumpulan manusia yang pagi-pagi sudah pergi, petang bahkan malam baru pulang.
Seperti percakapan kita yang tak habis sebelum kantuk datang. Yang selalu aku rindukan setiap paginya, saat tak bersama. Tahukah?

"Akankah aku selalu menangis ketika kita harus berpisah?"

Seiring berjalannya waktu, kedewasaan akan membawa aku pada senyuman manis sebelum berpisah ketika harus, aku harap.

Melanjutkan kehidupan dari satu bagian ke bagian yang lain.
Dengan percaya bahwa semua akan tetap baik-baik saja
Bahwa hati yang lain akan tetap menjaga dan setia
Bahwa hati yang lain juga merasa merindu dan akan tetap mencinta.

Kita Pilih Diam

Ada sebuah kutipan,
Kesimpulan adalah tempat istirahat saat lelah berdebat.
Kadang, kita bahkan lupa beristirahat untuk mengambil kesimpulan. Kadang, mungkin satu-satunya jalan adalah berhenti di tengah aktivitas melelahkan itu. Menahan diri untuk tidak melukai. Tapi, kadang ada pula kalimat-kalimat yang kita buat, untuk menyimpulkan kepulan-kepulan buah pikir masing-masing kita.

Kita, nampaknya masih ragu-ragu untuk mengerahkan kesemuanya. Entah, sampai saat ini aku belum menemukan, mana yang lebih baik. Melupakan tempat peristirahatan itu, atau berdiskusi sampai memerah kulit kita.

Yang aku tahu, kita bercinta dengan cara mencoba mengerti satu sama lain. Kelamaan, tempat peristirahatan itu, akan kita temukan sendiri, seiring dengan perjalanan hidup kita. Tanpa kita tuju. Lembar-lembar hikmah berserakkan, karena panjatan doa. Walaupun tidak kita dapatkan beberapa kalimat untuk menyimpulkan, kita tahu, kita tidak terlalu ingin beristirahat. Kita hanya tidak mau lelah berdiskusi karena terlalu mencinta.

Kadangkala khilaf pernah kita lakukan, namun hanya penyesalan tak bertepi yang kita rasakan. Bukan hangat. Bukan tempat beristirahat. Bukan.

Ketika bagi sebagian orang, merasa puas dengan bertempur pada kekasihnya, kita memilih untuk saling diam dan mengerti. Kita bukan malu memperlihatkan hangatnya cinta, tapi kita bisa merasakan hangat ketika dalam dinginnya diam. Lalu lupa, dan saling memeluk, berciuman.

Suatu saat, permasalahan kita mungkin bukan hanya sekedar Bilangan Aljabar atau Pecahan, mungkin akan sampai pada Linear atau Kalkulus 4. Aku tidak tahu, apakah kita akan sampai membangun tempat istirahat baru atau kembali lupa dan berpelukan saja.

Sama seperti pertanyaan sulit ini, ketika kita mengenang masa awal-awal pernikahan kita.

Siapa yang lebih dulu menggerakkan kepalanya menuju ke bibir lain: kamu atau aku? Kita sama saling tunjuk. Saling tidak mengaku, malu-malu kemudian tertawa. Lalu berpelukan.
Nampaknya, aktivitas seru para politikus atau pengamat 'bayaran' disana, sampai juga ke kamar tidur kita. Bedanya, kita saling mencintai, mereka tidak. Mereka hanya mencintai dirinya saja.
Dan semoga memang, kita tidak akan berpisah meski kita akan melewati masa-masa sulit dimanapun kita berada, kecuali Alloh sudah sangat merindukan salah satu kita, atau keduanya.


He made me feel...

Sebenarnya banyak hal yang ingin saya tulis sejak proses ta’aruf sampai akhirnya menjadi seorang istri dari laki-laki sederhana yang sudah menawan hati saya sejak pertemuan ke.. ke.. aduh agak lupa. Maaf deh :|
Pertemuan pertama kami, sebenarnya di Taman Wisata Permata Buana, Depok. namun saya belum mengenalnya, mungkin sudah berkenalan, tapi tidak ingat. Saya memang memiliki kemampuan mengingat di bawah rata-rata. Huft. Setelah itu (acara keakraban dan materi CAI di Permata Buana), biasanya para peserta melanjutkan pertemanannya, atau bersilaturohim via sosial media. Begitupun kami.
Apa yang aneh? Tidak ada. Eh, ada deh! (maunya apa? heuheu). Ternyata setelah saya telisik, ikhwan ini sempat kurang suka dengan saya, kenapa? Karena saya berisik (dengan saudara meisarah kasuma tentunya) ketika kalah di salah satu permainan outdoor yang bertanding dengan grupnya. Malu rasanya :’)
Menarik untuk memperhatikan dia di salah satu sosial media yang sering saya gunakan, sebelumnya. Tidak bosan-bosan saya memperhatikan ikhwan ini (ecie ikhwan :p), belakangan. kata-katanya yang rapi dengan struktur tulisan yang baik, juga dibumbui rasa humor yang cerdas, membuat saya semakin gemas dan penasaran dengan laki-laki ini. Belum ada seseorang yang tidak saya kenal namun membuat saya sangat memperhatikan dan peduli (dalam jangka waktu yang cukup lama) dengan aktivitasnya di sosial media, atau biasa dikenal dengan sebutan kepo.
Setelah itu, kami ditakdirkan bertemu kembali di wisma 354, Ciawi Tapos. Untuk apa? untuk musyawaroh kelanjutan acara-acara mahasiswa yang ingin kami lancarkan.
--- 

*Musyawaroh di Ciawi, Tapos
*ngecek event di FB dulu* *ternyata salah* XD
Jadi sebenarnya, ketemu di Bintaro dulu siiiiik. Di acara From SMA to Campus, pembekalan buat anak-anak yang bakal lulus SMA dan bingung mau masuk kampus mana. At that moment, kita ternyata satu grup (Akuntansi, Ekonomi dan Management) buat ngasi tau, nanti di kampus bakal ngapain aja, sih. Yang persentasi tentu saja ikhwan yang bikin penasaran itu dan temannya (yang mana saya sudah lupa haha). Yang foto nya gak jelas di sosial media itu. Iya, makanya saya penasaran :3. Yang akhirnya saya mengeluarkan kalimat: “Oooh, ini toh yang namanya Ramdhan” kemudian (bang) Ramdhan senyum malu-malu kucing (pake abang ya? soalnya udah jadi suami :P).
Waktu di acara tersebut, saya sih tidak terlalu memperhatikan beliau. Karena meningkatnya intensitas kekepoan dan curiosity itu terjadi setelah acara yang di ciawi, Tapos tersebut. tapi, konon katanya, di acara tersebutlah (acara di Bintaro) sang abang mulai memperhatikan saya (yang sering merespon pertanyaan peserta) *tersipu*

 *From SMA to Campus

 Time flies, ada musyawaroh ini itu, keperluan ini itu, grup whatsapp demi efesiensi musyawaroh dan lain sebagainya. Hingga sampai di momen-momen itu. Momen dimana kegalauan merajai saya *tsah. Momen-momen dimana istikhoroh menjadi rutinitas. Doa malam menjadi obat penenang di dalam kalbu *tsah. Beribu pikiran logis saya mengatakan tidak mungkin saya bisa bersamanya. Kehidupannya masih panjang, menikah nampaknya hanya akan membatasi ruang geraknya untuk berkarya. Too many thoughts stating that it would not be possible to do, yes a married life. Pada akhirnya kita tahu bahwa kita hanya aktris yang memainkan perannya masing-masing. Hanya seorang hamba yang memasrahkan kehidupan kepada Tuhannya, sesuai kehendakNya.
 Semua terjadi begitu saja, begitu cepat, begitu lancar untuk meyakinkan diri dan orang tua masing-masing. Tidak ada halangan yang begitu berarti. Dan momen-momen perjuangan belum selesai, menyatukan dua kepala, dua keluarga. Entah itu waktu, keperluan, keinginan dan lain sebagainya. Masa menunggu wisuda, pernikahan keluarga dekat, dan mencari ilmu agama di daerah jawa timur juga mewarnai dan memberikan banyak makna di setiap liku perjalanannya. Hingga sampai disini, hampir tiga bulan kehiduppan pernikahan kami, masih seumur jagung, masih belajar mengarungi hidup bersama. Alhamdulillahi jazaa kallohu khoiroo, Muhammad Ramdhan Ibadi :’)

I wish its You~

You're not perfect. 
i am not either, and the two of us will never be perfect. But you can make me laugh at least once, causes me to think twice, and you admits me to being human and making mistakes. Cause every single thing in yours, i wanna hold onto you and give you the most i can. I cant promise. But i do try to be your best. I try. I do. 

You're not going to quote poetry, you know. You're not thinking about me every moment, i guess. But you will give me a part of yours that you know i could break. I wish i never expect for more than you can give.

I wish i never analyze you. I wish i can smile when we're going to mad, patience when you makes me jealous or ignoring me, and miss you when you're not here. And just.. feel. Deep inside. Dont think.

I know love is hard when there is love to be had. Not about when we're falling, but keeping. Because perfect couples don’t exist and we're in. But there’s always one guy that is perfect for a lady, for Me. Its not just for keeping me smile, but for fight in life, together. I wish its you. Deeply... Aamiin. 

Your lovely admirer, 
2-3-2014; 20:45

Tuan..

Hal yang perlu anda tau, saya berusaha mencari anda, Tuan. Mungkin seharusnya saya tetap dalam keyakinan saya bahwa anda akan datang disaat yang tepat, tapi ya.. saya manusia. Saya tidak sabar. Seharusnya, manusia bukanlah alasan untuk tidak bersabar bagi saya.

Berkali-kali kaum anda mendekati saya, dan beberapa kali saya kecewa. Mungkin salah satu dari mereka adalah anda, dan mungkin juga tidak. Saya hanya saja berdo'a, jika mereka yang mendekati saya bukanlah anda, maka saya meminta kepada Tuhan kita untuk menjauhkan saya dari mereka, dan hanya merekatkan cinta saya kepada anda.

Tapi, lagi-lagi, tetap, saya belum sabar, dan dengan kemampuan logika, analisa saya sebagai manusia, kemampuan meminta petunjuk dan merebahkan segala ego kepada Tuhan kita, membuat saya selalu mencoba menemukan anda. Mengikat anda dengan sebenar-benarnya ikatan.

Berkali-kali saya mengalami perasaan penuh di lambung, penuh kupu-kupu. Tapi saya tau, anda bukan sekedar efek indah dari kupu-kupu yang terbang di dalam lambung, anda bahkan hampir sama dengan gravitasi. Anda, akan menjatuhkan saya kepada cinta. Dan saya tidak dapat menolak gravitasi, menolak anda.

Anda tau, Tuan.. Saya benar benar berusaha menahan kesabaran saya untuk menjatuhkan diri saya kepada anda. Karena saya benar-benar belum utuh tanpa anda.

Mereka berbicara tentang kemelut yang mereka hadapi setelah mereka utuh, karena keutuhan dan gravtasi tak seindah yang saya tulis sekarang, atau sebelumnya, mengenai anda. Mereka berkata persoalannya akan lebih kompleks dari sekedar utuh dan gravitasi. Mungkin mereka benar. Mereka pengalaman. Mereka telah merasakan asam garam kehidupan.

Tapi anda tahu? Bagi saya, anda dan saya adalah utuh. Utuh dengan manisnya saya dan anda, utuh pula dengan duka nelangsanya anda dan saya. Ya, sekedar itu. Saya dan anda, akan kembali karena gaya gravitasi. Sesulit dan segetir apapun saat itu, saya dan anda, kita akan kembali dengan caraNya. Saya yakin itu, saya hanya sangat yakin dengan itu.

“Berhentilah merasa hampa. Berhentilah minta tolong untuk dilengkapi. Berhentilah berteriak-teriak ke sesuatu di luar sana. Berhentilah bersikap seperti ikan di dalam kolam yang malah mencari-cari air. Tidak ada seorang pun mampu melengkapi apa yang sudah utuh.” -Dewi Lestari, Supernova - Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh



Sesuatu yang sampai saat ini membuat saya dapat bertahan ialah, karena saya yakin, anda mencintai saya. Dan saya, terlalu mencintai anda. Anda, yang tidak saya ketahui letaknya. Mungkin ini gila, tapi ini adalah cara saya memelihara keutuhan saya dengan anda.

Ketika saya merasa telah menemukan anda, dan ternyata bukan anda.. Cepat-cepat saya mengatur nafas saya untuk hidup, dan bertemu dengan anda, bahagia dengan anda. Tidak peduli dengan mereka yang bukanlah anda.

Ya, saya gila. Saya tergila-gila dengan anda. Segeralah jemput saya, Tuan.. Saya ingin merasakan hebatnya gravitasi yang membuat saya dan anda menjadi satu kesatuan yang utuh. Menjalani perjalanan menuju surga, bersama.


 
Nadyavaizal's Blog Design by Ipietoon